Dropdown

Senin, 22 Juni 2015

Anak SMA++ Chapter 1 (Aku+Sekolah+Sidak)

     Aku adalah Jack seseorang yang disebut-  sebut sebagai "harapan terakhir umat manusia"  mengapa demikian, karena hanya aku di dunia ini yang memiliki potensi untuk mengalahkan sang raja iblis Libel. Saat ini aku sedang berhadapan dengan salah satu dari 10 anak buah terkuat Libel, Efreet sang naga pengendali api. Keadaan nya sangat buruk bagiku, semua pasukanku telah terbunuh yang tersisa cuma diriku saja, pedang suci ku excalibur telah patah membuat pertarungan jarak dekat dengannya hampir mustahil, sebaliknya jika aku gunakan sihir dan bertarung dari jarak jauh maka hampir 100% aku akan kalah, karena  Efreet adalah pengendali api yang hebat, sekali saja terkena semburan apinya maka tamatlah riwayatku.



     Disaat aku berfikir jalan keluar dari masalahku Efreet tiba-tiba melaju cepat ke arahku "sial, tidak akan sempat menghindar" pikirku, sesaat kemudian naga itu telah mengigit tangan kananku kemudian melemparkan tubuhku ke udara. "kalau sampai jatuh tulangku pasti remuk semua" pikirku, kemudian naga itu lagi-lagi membuat ku terkejut, ia terbang mendahuluiku kemudian tanpa ku sadari ia sudah berada di atasku yang sedang terlempar ke udara dengan kecepatan tinggi ini. Naga itu kemudian mengibaskan ekornya kebawah dan alhasil ekornya mengenai wajahku dan aku tetjatuh dengan cepat, Bruuukkkk..!!!. Kemudian aku kehilangan kesadaran diriku.

     Saat kubuka mataku perlahan-lahan yang ku lihat adalah seorang anak perempuan berambut panjang, setelah mataku benar-benar terbuka aku mengidentifikasi anak perempuan itu adalah adikku sendiri Lia. Pipiku dan punggungku terasa sakit. Di tengah rasa sakit itu aku mendengar suara adikku secara samar-samar, "ka...k. ...ngun... ... Kak... Ba...un..." Semakin lama suara adikku semakin terdengar jelas "kakak.... Bang...un.. Nan...  ... Lat lho..", dan akhirnya otakku sukses memproses kata-kata yang diucapkan oleh adikku yaitu "Kakak bangun nanti telat lho!" , ku rubah posisi tubuhku yang awalnya terbaring menjadi posisi duduk, ku lihat sekitarku dan aku tarik kesimpulan "itu cuma mimpi". Alasan dibalik rasa.sakit di pipiku adalah karena Lia menampar pipiku saat membangunkanku bukan karena aku dipukul oleh naga atau semacamnya, dan punggungku terasa sakit adalah karena aku terjatuh dari tempat tidurku.

     Pemalas... Mungkin kata itu yang akan terbayang saat kalian melihat kehidupanku di sekolah, saat guru mengajar yang ku lakukan kalau tidak tidur yah main HP, saat ada PR yang ku lakukan adalah menunggu hari PR itu dikumpul dan mencontek PR temanku sebelum dikumpul, hmm.. Mungkin mencontek terlalu rajin untukku baiklah aku ralat jadi menyalin, karena menurutku mencontek adalah di saat kau melihat jawaban temanmu secara illegal dan jika menemukan kesalahan akan kau koreksi sedikit agar mendapat nilai lebih tinggi walau cuma sedikit. Sedangkan menyalin adalah saat kau melihat sebuah wacana atau teks kemudian menulisnya tanpa merubah nya sedikitpun.

     Meskipun aku bilang diriku ini pemalas bukan berarti aku sering bolos, yang bener aja masa aku disamakan sama preman-preman tukang begal itu, kalau ada yang samakan aku dengan mereka bilang aja namamu akan ku bacok kalian satu-satu. Begini-begini aku ini peduli dengan masa depan ku, aku harus lulus SMA dan kemudian masuk perguruan tinggi lalu bekerja, tapi yah masa SMA ku belum betakhir dan sekarang aku masih kelas 2, jalan hidupku masih panjang.

     Aku sempat berpikir begitu beberapa menit yang lalu, tapi kurasa hidupku akan segera berakhir. Apa yang harus aku lakukan di situasi seperti ini? Haruskah aku berlari menerobos penjagaan 3 orang guru didepan kelas kemudian bersembunyi di warung-warung terdekat?, tidak bisa yang didepan kelas adalah pak ironman  kalaupun aku bisa lolos dan keluar kelas pak ironman akan berhasil mengejar dan menangkapku, bagaimana ini? Apakah sudah tidak ada lagi harapan bagiku untuk hidup?. Kulihat.sekelilingku satu persatu temanku yelah menjadi korban gunting pak  Komandan yang haus akan rambut.

     Saat ini mungkin kalian sudah mengerti betapa gentingnya keadaanku saat ini, ya sidak dadakan 3 menit setelah bel pertama masuk kelas, dan yang lebih parah lagi  1. rambutku belum ku cukur 2. Aku tidak menggunakan sabuk 3. Yang paling parah adalah di dalam tas ku terdapat banyak harta karun yang akan disita jika sampai ditemukan oleh petugas sidak seperti PSP, kartu remi, PS 2, beyblade, dan yang paling ku suka di antara semuanya adalah nintendo DS.

     Detik demi detik telah berlalu, giliranku untuk di sidak semakin dekat, keringat dingin mengucur dari dahiku sampai ke daguku sebelum menetes ke lantai. Jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya, sampai-sampai aku merasa dadaku akan meledak jika ini tidak segera ditangani,  ingatlah bahwa sidak itu tidak baik untuk kesehatan jantung  terutama sidak dadakan tanpa ada pemberitahuan sebelumnya. Maksudku biasanya sidak diadakan setelah anggota OSIS diberi pemberitahuan oleh guru, sehingga teman kita yang berada di OSIS dapat memperingatkan kita.

     Setelah kubongkar isi otakku untuk mencari jalan keluar dari situasi gawat darurat ini akhirnya kutemukan cara simpel keluar dari situasi ini. Saatnya untuk menghadapi sidak lapis 1, Rambut, rambutku ini terlalu panjang untuk seorang anak laki-laki SMA , untuk situasi ini aku sudah menyiapkan strategi yang bagus yaitu, pertama rambutku dibasahi dengan air agar terlihat tidak mengembang dan terlihat tipis, kedua rambut bagian kiri dan kanan disisir ke belakang telinga agar terlihat pendek dan sentuhan terakhir adalah berdoalah agar guru tidak menarik rambut bagian depan kebawah karena sudah jelas akan terlihat panjang. Beberapa saat setelah persiapanku selesai pak komandan sudah berada di depanku dan siap menyidak rambutku, ah ngomong-ngomong nama aslinya adalah pak Sugitra, kenapa dipanggil pak komandan? Karena orangnya sendiri bilang begitu. "Dwiki, kenapa rambutmu basah?", ah ini dia serangan pertama pak komandan, jelas aku sudah mempersiapkan jawaban untuk pertanyaan nya. Oh iya tadi di awal aku bilang namaku Jack, nama asliku adalah Dwiki Ariesta yang tadi cuma mimpi jadi jangan dianggap serius. Jawabanku untuk pertanyaan pak komandan adalah, "tadi saya kelebihan pakek minyak rambut pak!". Gimana pak? Jawabanku sudah pasti tidak akan di tindaklanjuti, dengan begini kemungkinan ku bertahan dari gunting pak komandan akan naik dari 30% menjadi 50%.  "ohh... Terus, ngapain rambutmu kamu sisir ke belakang?". Hah! Pertanyaan yang percuma, sudah kusiapkan jawabannya, "biar lebih ganteng pak!". Kali ini aku tidak bohong, meskipun aku pakek gaya rambut apapun aku tetap tampan. Senyum bangga terukir diwajahku, aku bangga pada diriku sendiri atas trikku yang berhasil mengelabui seorang guru.

     Namun senyum banggaku segera lenyap, aku merasakan dinginnya sebatang besi di pelipisku dan saat itu juga aku menyadari bahwa rambutku sedang di cukur oleh pak komandan. "heeehh!!!, ngapain dicukur pak???" Jelaslah diriku ini binggung, rencanaku seharusnya sudah sempurna, tetapi kenapa bisa ketahuan?.
 "duh, ki kamu tiap kali ada sidak rambut selalu disisir ke belakang"
"ah gak selalu kok pak"
"emang gak selalu, cuma pas rambutmu panjang aja"
Kalau diingat-ingat pada sidak sebelumnya aku menggunakan trik ini juga pas sidak sebelumnya dan yang sebelumnya juga, ah kalau dipikir-pikir aku selalu menggunakan trik ini!. Bodohnya diriku!, kenapa aku tidak menyadarinya, seberapa hebatnya trikku kalau terlalu sering digunakan pasti akan ketahuan!, sial! Aku lengah dan menyebabkan kegagalan pada sidak lapis 1 ini. Tapi akan ku pastikan sidak lapis 2 aku akan selamat.

     Sidak lapis 2, yaitu sidak kelengkapan pakaian. Kalau sidak ini aku yakin 100% aku akan aman karena aku tidak pernah melanggar aturan sekolah. Seperti yang aku bilang tadi semalas-malasnya diriku , aku tetap memperhitungkan masa depanku, mengapa rambutku panjang?, karena aku malas ke tukang cukur untuk memotongnya. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya giliranku untuk diperiksa kelengkapan seragamku, senyum bangga kembali ke wajahku.
"mau dicari sampai kiamat juga ga bakal ketemu kesalahanku berpakaian pak" gumamku dalam hati.
"kesalahan emang ga ada ki, tapi resleting celanamu tuh belum dinaikin" kata guru yang memeriksaku.
"eehhh... Buk bisa baca pikiran hah?,  eh daripada itu tadi ibu lama banget ngecek celananya, jangan-jangan ibu liatin celana dalam saya ya?, iya kan?, pasti begitu" ujarku dengan nada yang agak tergesa-gesa. Hadiah dari ucapanku tadi adalah sebuah bogem mentah yang sangat keras mendarat tepat di atas kepalaku.
"aduh!!, ibu ngapain bu? Sakit ah, aduh...duh... Ahh!! Benjol nih buk tanggung jawab dong kasi ongkos berobat!" Ujarku dengan maksud bercanda. Ada 3 makna dibalik kalimat itu yang pertama adalah sesuai dengan kata-kataku tadi, pukulannya sakit sekali. Yang kedua adalah bercanda tanpa ada maksud menyakiti. Dan yang terakhir adalah kalau kata-kataku dianggap serius maka aku akan mendapatkan uang jajan tambahan.
"tanggung jawab jidatmu!, kamu pikir gurumu ini tukang ngintip apa? Haaahh???" Kata bu guru. Wow, aku yakin tadi bisa melihat aura warna merah di sekujur tubuh bu guru, apakah guruku ini bisa menggunakan jurus kaioken seperti animasi yang sering kutonton dulu pas masih SD?.  Tapi pada kenyataannya guru ini emang serem, tatapan tajamnya benar-benar menusuk ke hati seakan-akan mengatakan "kalau masih mau hidup jangan banyak bacot!". Untungnya kata-kata itu hanya tersirat dari wajahnya yang seram saja, kalau sampai kata-kata itu keluar dari mulut bu guru maka yang bisa kulakukan hanyalah menunduk dan mengatakan ya saja.
"nggak bu, cuma becanda bu, jangan dianggap serius dong" aku mengatakannya.dengan wajah yang memelas dan seakan-akan mengatakan "maaf ya bu guruku yang tercinta". Tentu saja hanya ekspresi wajahku yang menyiratkan kata-kata itu, kalau sampai keluar dari mulutku bisa-bisa aku mati karena malu.
"ohh... Cuma bercanda toh? Bercanda jidatmu!" Balas bu guru sambil mengunci leherku dan menggosokkan bogemannya di atas kepalaku, dan jelas rasanya sakit apalagi yang digesek adalah benjolku.
"ah.... Adah... Adaw... Yah bu... Ampun.. Saya yang.. Adaaaawwwwaaa.... Saya yang salah buuu!!!"
Menyedihkan sekali bagi diriku ini masa harus tunduk pada guru yang kasar ini.
"jangan diulaingi lagi... YAH!!?!!" Dengan nada khas nya bu guru itu memperingatkanku.
"ya..." Jawabku dengan lemas.
"dasar jones, dikit-dikit marah, pantes aja ga ada yang mau"
"ngomong apa nak???" Kata bu guru dengan senyumannya yang mirip iblis ia menoleh ke arahku.
"SAYA NGOMONG SAMA RIJAL BU!!" Jawabku dengan spontan,bu guru tidak mengatakan apapun dan langsung pergi entah dia mudah dikibulin atau dia sudah bosan denganku. Dengan begitu aku telah berhasil lolos dari sidak lapis 2.

Biar aku jelaskan pada kalian tentang bu guru itu. Namanya bu Lisa, dibalik namanya yang cantik itu tersimpan sifat pemarah dan judes. Umurnya sekarang 35 tahun dan belum pernah memiliki pacar sekalipun. Bu Lisa juga merupakan pembina dari JSB walaupun ia tidak pernah memgakuinya. Namun dalam hati kami, kami percaya hanya Bu Lisa yang bisa menjadi pembina JSB.

Akhirnya tiba saatnya untuk lapis terakhir, sidak lapis 3 yaitu sidak barang bawaan. Sidak yang paling berbahaya yang pernah ada di sekolah ini. Beberapa alasan mengapa aku katakan sidak ini adalah sidak paling berbahaya adalah, pertama yang memeriksa barang bawaan kami adalah Pak Ironman, guru yang paling galak yang pernah ku tau, sekalinya dia marah bisa-bisa kami diberi pelajaran tambahan setelah jam pulang sekolah. Aku yakin kalian tau bagaimana rasanya menanti jam pulang sekolah kan?, dan coba bayangkan kalau setelah jam pulang sekolah kalian diberi pelajaran tambahan, tidak enak kan? Apalagi pelajaran tambahannya dari guru yang paling galak dan di dalam kelas kalian hanya berduaan dengan guru itu, kalau aku mah amit-amit deh. Yang kedua adalah barang yang terjaring sidak tidak akan dikembalikan sampai orang tua atau wali datang untuk mengambilnya sendiri. Yang terakhir adalah jika anda ketahuan membawa barang yang ber-rating 18+ maka kalian akan mendapat bonus liburan selama 3 hari, dengan kata lain kalian akan di skors. Skors itu sendiri bukanlah hal yang buruk bagi siswa yang malas, tapi bagi siswa yang rajin dan polos seperti diriku ini skors merupakan bencana. Banyak hal negatif yang aku dapat jika aku di skors, salah satunya adalah kehilangan uang jajan harian, ini jelas merupakan hal yang sangat buruk bagiku karena uang jajan adalah hal yang sangat penting bagiku banyak barang yang ingin aku beli dengan uang jajanku seperti game, DVD dan masih banyak lagi. Di sisi lain skorsing juga dapat mengurangi absensi kalian di kelas dan dapat menjadi penyebab tidak naik kelas, dan untuk menghindari hal-hal ini aku sudah mempersiapkan sebuah rencana yang sangat cerdik untuk lolos dari sidak ini, akan ku tunjukkan bahwa aku bisa lolos dengan kekuatanku sendiri.

     Detik demi detik berlalu, satu persatu temanku telah selesai diperiksa barang bawaannya, dan sekarang tibalah giliranku. Wajah Pak Ironman sudah terlihat kesal saat ia melihat ekspresiku yang tenang, entah kenapa dia marah, apakah karena dia sangat ingin menghukum siswanya? sebegitu sadisnya guruku ini? tidak heran dia menjadi guru paling dihindari di sekolah ini, dan yang lebih parahnya lagi Pak Ironman hafal nama seluruh siswa di sekolah ini bahkan sampai alumni yang sudah lulus 10 tahun yang lalu. Gila berapa Terrabytes otak ini orang.
"Dwiki!, Mana tas mu?!" sambil memandang rendah diriku Pak Ironman berkata kepadaku.
"Maaf pak! saya lupa bawa tas hari ini!" jawabku dengan tegas sambil melakukan sikap hormat padanya. Jelas yang ku katakan pada Pak Ironman itu adalah bohong, sebenarnya ini adalah bagian dari rencanaku. Karena duduk disebelah jendela aku bisa membuang tas ku keluar jendela dan dengan begitu aku bisa lolos dari pemeriksaan. "Gimana pak? di dalam rencanaku tidak ada yang mustahil" pikirku dengan bangga. Entah kenapa Pak Ironman semakin kelihatan marah padaku apakah sebegitunya ia ingin menyiksa muridnya dengan pelajaran tambahannya?.
"Hoooo.... Jadi kamu gak bawa tas Dwiki?" tanyanya dengan nada yang agak mengesalkan.
"Iya pak! Maaf!" jawabku dengan tegas.
"Terus itu tas siapa hanyut di selokan?".
Gawat, aku lupa kalau di luar jendela adalah sebuah sawah, dan setiap sawah pasti memiliki yang namanya saluran air. Dengan sigap aku menoleh keluar jendela untuk memastikan keadaan tasku. Saat kulihat benda berwarna coklat hanyut di saluran air aku langsung melompat keluar jendela. SPLASSHH... aku masuk ke saluran air. "MY BELOVED NDS!!!" aku berteriak sembari berenang mengejar tasku yang hanyut terbawa arus. Mengejar tasku yang hanyut bukanlah masalah besar beberapa detik kemudian aku sudah mendapatkan kembali tasku.

     Dengan basah dan rasa bangga aku kembali ke kelas, namun yang menungguku di kelas adalah tidak lain dan tidak bukan adalah Pak Ironman. Gawat aku lupa kalau tadi ada sidak, karena rasa bangga bisa menyelamatkan tasku aku jadi lupa tentang sidaknya. Beberapa menit kemudian guru pergi dari kelas kami menandakan sidak telah berakhir. Disaat teman-temanku menyiapkan diri untuk belajar aku masih terdiam lemas dibangkuku meratapi nasib bahwa semua hartaku telah dirampas oleh Pak Ironman, dan bukan hanya itu hartaku juga basah dan sebagian ada yang rusak karena terkena air. "Sabar ki, kita hanyalah mahluk yang lemah ditangan Pak Ironman" kata Fahrizal teman sebangkuku, aku tau dia mencoba untuk menyemangatiku tapi entah kenapa aku kesal dengan nada bicaranya. "Nanti biar aku bilang ke Pak Ironman buat ngebakar barang-barang mu cok". Sudah kuduga dia meledekku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

NOTE

Saya hanyalah penulis amatir, jika ada masukan silahkan tulis di komentar. Kritik dan saran kalian sangat aku terima dan jika suatu saat nanti aku menjadi penulis terkenal maka tidak salah lagi itu adalah berkat kalian semua.