Hari
ini aku dan teman-temanku berada di rumah Fahrizal untuk mengerjakan tugas
tambahan yang diberikan kepada kami sebagai hukuman dari Pak Ironman, karena
tempo hari kami ketahuan bermain HP saat jam pelajaran. Tugas yang diberikan
banyaknya bukan main, meringkas 4 bab pelajaran fisika.
“ahh… masih banyak yah…” Keluh Fahrizal.
“Lagian lu sih, paling keras teriaknya, kan
ketauan sama si Ironman!” Kata Rifaldi sambil menunjuk ke arahku.
“Yang udah ya udah, nasi udah jadi bubur,
mau gimana lagi kita semua kegirangan abis menang lawan mini bossnya sih”
ujarku untuk melindungi diri dari kesalahan, aku tidak bohong itu semua fakta.
Hukuman ini diberikan kepada kita semua karena kita semua bersalah, guru-guru
di sekolah tidaklah bodoh.
“Tapi lagi-lagi kita yang kena ya?
Seharusnya si Ironman udah bosen ngasi kita tugas.” Kata Boby.
“Iya ya… kenapa tuh om-om berotot ga pernah
bosen sama kita ya?” Tanya Deni.
“Pas kelas 1 juga kita juga yang kena ya?
Jadinya libur kenaikan kelas kita cuma dapet main ke PKB sekali aja”
klik disini
PKB adalah Pesta Kesenian Bali yang
diadakan di Art Center, Denpasar Bali. Acara ini berlangsung bersamaan dengan
libur kenaikan kelas, di acara ini diadakan berbagai pentas kesenian bukan
hanya dari daerah Bali namun seluruh nusantara. Dan terdapat berbagai macam
kiosjajan dan oleh-oleh. Jadi kalau dating ke Bali ingat kunjungi PKB di Art
Center pada bulan Juni sampai Agustus dan yang lebih kerennya tidak ada biaya
masuk, hanya ada biaya parkir. (Maaf saya tidak bermaksud ber iklan, saya Cuma
ingin orang-orang luas tau event di Bali)klik disini
Yah… tahun lalu kami pergi kesana, namun
dari puluhan hari PKB dibuka kami hanya dapat pergi kesana sekali saja. Semuanya
adalah salah Pak Ironman, masa akhir tahun ajaran masih saja memberi tugas pada
siswa? Coba pikirkan baik-baik, apakah masuk akal seorang guru memberi tugas
saat akhir tahun ajaran? Iya kan? Tapi kenyataannya begitu, kami diberi tugas
meringkas 1 buku paket dan menjawab semua soal yang ada di buku itu, jahat kan?
Yang lebih jahat lagi alasan kami dihukum saat itu adalah karena kami
memecahkan beberapa gelas kimia di Lab saat kami bermain perang tutup botol.
Lagian gelas seperti itu kenapa dibuat dari kaca? Coba dibuat dari plastik,
pasti akan tahan lama kan? Karena uang jajan kami tidak cukup untuk mengganti
gelas-gelas yang kami hancurkan makanya Pak Ironman menghukum kami dengan tugas
kejamnya ini.
Hari itu hampir sama dengan hari ini sehari
sebelum PKB berakhir kami mengerjakn tugas di rumah Fahizal seperti hari ini
juga.
“Yeah!!! KELAR!!” Teriak Rifaldi dengan
bangga.
“Eh Fal nyontek dong soal yang di bab
terakhir”
“Noh, salin sendiri. Kalo gak bisa baca
jangan Tanya aku”
Beberapa menit kemudian kami semua telah menyelesaikan tugas kenaikan
kelas ini. Aku yakin kalian pasti tidak tau bagaimana rasanya menghabiskan satu
bulan liburan kalian yang berharga untuk berkumpul dengan cowok-cowok apalagi
untuk membuat tugas, perih rasanya saat teman-temanmu yang lainnya pergi
jalan-jalan atau gowes naik sepeda pagi hari sedangkan kalian malah menginap di
rumah teman sambil mengerjakan tugas, yah meskipun 80% waktu kami membuat tugas
kami gunakan untuk main PS, rasanya tetap saja tertekan jika tugas belum selesai
kan?.
“Woi entar malam ke PKB yuk?” ajakku.
“boleh tuh,lagian hari ini terakhir PKB
kan?”
“iya, event setahun sekali harus ikut kan?
Sekalian melestarikan budaya nusantara bro”
“yaudah kalau semua setuju entar jam 6 sore
kumpul diwarungku ya?”
“OKEE~”
Saatku lihat jam tanganku jarumnya sudah menunjukkan jam 6 lebih 45 menit, padahal perjanjiannya adalah jam 6 sore. Biar ku beritahu kepada kalian kehebatan Boby saat kalian membuat janji dengannya maka buatlah janji 1 jam lebih awal. Maksudnya begini, jika kalian ingin berangkat ke suatu tempat jam 7 maka kalian harus membuat janji dengannya jam 6, karena dia pasti akan terlambat 1 jam dari waktu yang dijanjikan, ketika dia datang dia akan memasang muka tidak bersalah dan berkata.
Saatku lihat jam tanganku jarumnya sudah menunjukkan jam 6 lebih 45 menit, padahal perjanjiannya adalah jam 6 sore. Biar ku beritahu kepada kalian kehebatan Boby saat kalian membuat janji dengannya maka buatlah janji 1 jam lebih awal. Maksudnya begini, jika kalian ingin berangkat ke suatu tempat jam 7 maka kalian harus membuat janji dengannya jam 6, karena dia pasti akan terlambat 1 jam dari waktu yang dijanjikan, ketika dia datang dia akan memasang muka tidak bersalah dan berkata.
“Sorry bro, tadi aku lama di kamar mandi”
Kata Boby dengan wajah tidak berdosa. Entah apa yang ia lakukan dikamar mandi
sehingga membuatnya terlambat 1 jam, tapi yah, kurasa kalian semua bisa
membayangkan apa yang dia lakukan, tapi aku tidak akan katakan itu benar karena
aku belum pernah mengetahui jawaban yang sebenarnya. Karna kebiasaannya ini
kami jadi sudah terbiasa mengahadapinya dan tidak ada dari kami yang marah
padanya karena ia datang tepat di jam yang kami inginkan.
“udah semua datang kan?” Deni bertanya
sambil menghitung jumlah kami.
“oh iya Jal, katanya tadi mau ngajak
cewek-cewek? Mana mereka kok ga ada yang datang?” Tanya Boby kepada Fahrizal.
“Rijal lu suruh ngundang cewek, mana ada
cewek yang mau diajak sama dia kan?” ejekku
“BUACOT KAU KI, kayak lu pernah ngundang
cewek ikutan ke acara-acara gini”
“Pernah, pas kemarin kita camping ke gunung
batur, aku ngundan Riska sama Emmy mereka mau ikut kan?”
“Mereka ga masuk itungan, yang satu tomboy,
yang satunya lagi ga tau malu. Mereka gak masuk itungan cewek”
“Terus apaan?”
“Manusia jadi-jadian?”
“Apaan tuh? Udah ah ayuk cepet berangkat
entar keburu penutupan lagi”
Kemudian kami semua berjalan ke Art Centre
bersama, jarak dari warungku menuju Art Centre cukup dekat itulah mengapa kami
memilih warungku sebagai tempat berkumpul. Beberapa menit kemudian kami sampai
di Art Centre, hal pertama yang aku perhatikan adalah wajah-wajah tukang parkir
dadakan, aku memiliki dendam pribadi pada tukang parkir disini karena 2 tahun
lalu biaya parkir disini hanya Rp.2.000 saja untuk sepeda motor namun sekarang
menjadi Rp.5.000 dan tahun lalu aku benar-benar kesal makanya tahun ini aku
datang kesini dengan berjalan.
“Hahahahaha!... makan nih tukang parkir,
aku gak usah bayar! Huahahahahaha!”
“Kenapa lu ki? Kesurupan?” Tanya Fahrizal.
“Biarin aja si Dwiki kayak lu gak tau dia
aja, dia kan emang anak gak bener” tambah Rifaldi.
“Haah??... bukannya kau lebih parah dari
aku Fal?, kau juga Jal… dasar korban NTR” balasku.
Jika kalian bersama dengan orang-orang ini
maka dihina, dicaci maki dan dan direndahkan itu menjadi hal biasa, mereka
menghina karena mereka tidak jauh lebih buruk dari orang yang mereka hina.
Saling menghina adalah tanda persahabatan, jangan pernah mengaku sahabat kalau
belum pernah saling menghina. Bagiku sahabat adalah seseorang yang menghinamu
di depan dan membicarakan kebaikanmu di
belakangmu. Ambilah contoh aku sebagai contoh, aku menghina
teman-temanku di depan umum dan aku tulis sebagai novel, bagaimana? Aku adalah
sahabat yang baik bukan? Asal tidak berlebihan maka itu bukan masalah.
Setelah
kami melewati gapura kami berjalan dengan lambat, jumlah orang disini sangat
banyak, Kios-kios berjajaran dengan rapi beberapa pedagang kaki lima juga
banyak ditemukan disini.
“ahh, rame cuy..” keluh Rifaldi
“kalau gak rame tahun depan PKB gak bakal
ada lagi” balas Fahrizal
“Eh, kita mau nonton apa nih?” tanyaku.
“Kalau gitu kita liat jadwal dulu yuk?”
saran Boby
Dengan begitu kami berjalan menuju papan
pengumuman untuk melihat jadwal acara hari ini. Tapi sebelum kami ke papan pengumuman
kami berhenti di beberapa kios makanan, karena Deni bilang dia belum makan
sebelum berangkat kesini. Sesampai kami di depan papan pengumuman yang menanti
kami adalah lautan manusia.
“APA-APAAN INI??!!!” Teriak Rifaldi.
“apaan? Jahat lu Fal… mereka manusia lah…”
balas Deni
“lu ngomong apa Den?”
“yah lu sih nyanya mereka apaan, yah mereka
manusia lah…”
“ahh ini dah kenapa nilai bahasa
Indonesiamu hancur Den…”
“emang kenapa?”
“udah ah… ngomong ama lu gak bakal ada
ujungnya”.
“terus gimana nih?” tanyaku
“mau gimana lagi…” jawab Boby
“Nyerah?”
“GUOBLOK! Kita TROBOS!!!”
“hooo!!!”
Dengan semangatnya kami menerobos lautan
manusia yang memenuhi papan pengumuman, sedikit demi sedikit kami berjalan
mendekati papan pengumuman, semuanya berjalan dengan mulus. Tiba-tiba kami
mendengar suara teriakan yang tidak asing.
“HUaaaaaahhhh!!!!”
Saat aku menoleh kebelakang, pemandangan
yang tidak menyenangkan masuk ke dalam mataku. Rifaldi telah gugur, dia terbawa
oleh arus dan hanyut ke lautan manusia yang tiada batasnya. Melihat keadaan
Rifaldi membuat hatiku merasa sedih, setelah dia hanyut dalam lautan manusia
kemudian ia terjatuh dan menjadi keset. Belum sempat kami mengucapkan kata-kata
terakhir untuk Rifaldi, suara teriakan Boby pun terdengar.
“Oh My GOOOODD!!!!”
“Rifaldi, Boby!!” aku dan Fahrizal
berteriak.
“jangan pedulikan kami, lanjutkan
perjalanan kalian menuju jadwal PKB hari ini! Dapatkan jadwalnya demi kami!”
teriak Boby
“Tapi, aku tidak mau meninggalkan kalian
dalam keadaan terinjak” kata Fahrizal
“Sudah kubilang, PERGI!, jangan pedulikan
kami!”
“Tapi..”
“ayo jal, jangan buat pengorbanan Fal dan
Boby jadi sia-sia, kita harus mendapatkan jadwal hari ini demi mereka” kataku
sambil meneteskan air mata.
Ah,
jangan salah sangka padaku, aku meneteskan air mata bukan karena sedih temanku
terinjak-injak, tapi karena aku menahan tertawaku melihat dua orang bodoh yang
merupakan temanku itu menjadi keset untuk ratusan orang ini.
Beberapa menit telah berlalu sejak kami
meninggalkan Rifaldi dan Boby menjadi keset, akhirnya kami sampai di depan
papan pengumuman. Dengan cepat aku dan Fahrizal mengeluarkan HP kami dan
memfoto jadwal hari ini untuk diperlihatkan kepada teman-teman kami.
“Yes!, dengan ini kita bisa tenang tentang
kemana harus pergi hari ini.” Kata Fahrizal
“Ya, ayuk balik.”
Setelah kami berbalik ke belakang kami
melupakan sebuah fakta kecil yang sangat penting, jika kami masuk ke dalam
lautan manusia ini dengan susah payah maka perjalanan kembali kami pasti juga
akan susah.
“Udah, berpikir gak bakal bawa kita
kemana-mana, intinya kayak tadi, TROBOS!!” Kataku mencoba untuk menyemangati.
Setelah kira-kira 5 menit berlalu akhirnya kami bisa keluar
dari lautan manusia itu dan berkumpul kembali dengan teman-teman kami, meskipun
kami dalam keadaan yang cukup buruk. Pertama Rifaldi dan Boby, mereka memiliki
beberapa bekas sepatu di wajah, baju dan celana mereka, aku yakin diinjak
sekian banyak orang pasti sakit rasanya. Kemudian aku dan Fahrizal, Pakaian
kami sangat berantakan, rambut kami acak-acakan alasannya jelas karena
bertabrakan dengan orang lain, inilah akibat yang kami dapatkan ketika berjalan
melawan arus, ketika ratusan orang. Sedangkan Deni, dia sangat bersih dan rapi,
seperti tidak terjadi apa-apa padannya.
“gimana ki, jal? Dapat jadwalnya?” Tanya
Rifaldi
Dengan bangganya kami menunjukkan foto yang
berhasil kami ambil di depan papan pengumuman tadi. Tapi entah mengapa wajah
teman-temanku semua menjadi pucat.
“kenapa? Emang ada yang salah?,
jangan-jangan yang aku foto jadwal kemarin ya?” tanyaku
“enggak sih, jadwalnya jadwal sekarang sih,
Cuma…. Fotonya burem oi yang kebaca Cuma tanggal nya doang cok!” ujar Boby.
“ehhhh… masa??!! “
Aku lihat foto yang berhasil aku ambil
tadi, dan kemudian wajahku menjadi pucat, ternyata fotoku benar-benar tidak
dapat dibaca dengan jelas.
“Terus lu gimana jal? Kelihatan?” tanyaku
Saat aku melihat layar HP Fahrizal aku
sangat ingin memukul wajahnya dengan keras.
“Emang perjuangan kita tadi kesana buat
apa?!” tanyaku.
“Mana kutau kalau fotomu bakalan hancur!”
jawab Fahrizal.
“oohh… jadi kalau itu alasanmu fotoin cewek
bukan jadwalnya?”
“Masalah?!”
“MASALAH LAH!”
Entah kenapa aku diberkahi teman yang bodoh
seperti ini? Disuruh untuk mengambil foto jadwal PKB hari ini, kok malah fotoin
cewek-cewek terdekat?. Kurasa tingkat jomblo nya Fahrizal sudah terlalu tinggi,
jadi dia bisa menerima dirinya bahwa dia itu jomblo dan mulai berpindah ke
dunia hayalan. Aku menaruh telapak tanganku di wajahku untuk menunjukkan
kekecewaanku. Entah apa hasil dari kerja kerasku untuk sampai ke papan
pengumuman tadi.
“nih…”
Deni berbicara sambil menunjukkan HP nya kepada kami
“ohhh… ini kan jadwal PKB hari ini!” ujar
Boby.
“Den… lu ternyata sahabat yang
berguna” kataku memuji.
“emang lu ikut nerobos tadi ya?, kayaknya
enggak deh.” Tanya Fahrizal.
“aku dapat dari internet.” Jawab Deni
“eh…” kami semua kebingungan.
Aku lupa kalau sekarang zaman sudah
canggih, tidak seperti beberapa tahun lalu dimana internet masih merupakan
barang mewah, sekarang informasi bisa didapatkan dengan mudah. Aku sempat berpikir,
kenapa aku tidak mencoba mencari jadwal PKB di internet saja tadi. Aku mulai
mengutuk diriku ini yang pelupa, untuk apa perjuanganku menembus lautan manusia
yang kejam itu? Apakah hanya untuk lawakan yang tidak jelas saja?. Yah apapun
yang terjadi, sekarang kami sudah memiliki jadwal PKB saatnya untuk menentukan
apa yang harus kita tonton di hari terakhir PKB ini.
“sekarang jam berapa?” Tanya Rifaldi
“Jam 10” jawabku.
“Jam 10 ada apa aja den?” Tanya Rifaldi
sekali lagi.
“ehhmmm… OH!” teriak Deni.
Kami semua bingung kenapa tiba-tiba wajah
Deni menjadi pucat. Kemudian Rifaldi melihat ke layar HP Deni untuk memastikan
apa yang membuat Deni terkejut. Bukannya alasan Deni terkejut yang aku
dapatkan, malah kebingunganku yang bertambah, Rifaldi juga ikut membatu dengan
wajahnya yang pucat. Selanjutnya Boby dan Fahrizal melihat ke layar HP Deni,
hasilnya, sama seperti Rifaldi mereka membatu dengan wajah pucatnya. Memangnya
ada apa sih di layar HP Deni? Sampai-sampai mereka semua terdiam membatu, aku
punya perasaan yang buruk tentang ini. Aku memberanikan diri dan melangkah
mendekati Deni, kemudian dalam hitungan ke tiga aku melihat layar HP Deni. Aku
pun juga ikut terdiam membatu seperti kawan-kawanku. Bagaimana aku tidak
terkejut, yang aku lihat di HP Deni adalah jadwal hari ini, dan saat aku lihat
ke blok terakhir di ujung bawah halaman tertulis Jam 21.00WITA-22.30WITA =
Penutupan PKB. Kemudian kami terdiam tanpa bergerak dan tidak mengatakan
sepatah katapun.
“Ki, oiii KI!!!” Teriak Fahrizal
“eh… ahh… a-apaan?” jawabku
“Ngapain kau bengong? , kerjain bagian mu
cok!”
“eh?”
“TUGASNYA COK! TU-GAS! , kalau kau gak mau
kerja nanti gak bakal aku kasi nyontek!”
Karena saking asiknya aku mengingat liburan
tahun lalu, aku lupa bahwa aku sedang membuat tugas yang diberikan kepadaku.
Sialnya diriku, tahun lalu dan juga tahun ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar