Dropdown

Jumat, 17 Juli 2015

Anak SMA++ Chapter 3 (Cowok+Kenangan+Liburan di PKB)

                Hari ini aku dan teman-temanku berada di rumah Fahrizal untuk mengerjakan tugas tambahan yang diberikan kepada kami sebagai hukuman dari Pak Ironman, karena tempo hari kami ketahuan bermain HP saat jam pelajaran. Tugas yang diberikan banyaknya bukan main, meringkas 4 bab pelajaran fisika.
“ahh… masih banyak yah…” Keluh Fahrizal.
“Lagian lu sih, paling keras teriaknya, kan ketauan sama si Ironman!” Kata Rifaldi sambil menunjuk ke arahku.
“Yang udah ya udah, nasi udah jadi bubur, mau gimana lagi kita semua kegirangan abis menang lawan mini bossnya sih” ujarku untuk melindungi diri dari kesalahan, aku tidak bohong itu semua fakta. Hukuman ini diberikan kepada kita semua karena kita semua bersalah, guru-guru di sekolah tidaklah bodoh.
“Tapi lagi-lagi kita yang kena ya? Seharusnya si Ironman udah bosen ngasi kita tugas.” Kata Boby.
“Iya ya… kenapa tuh om-om berotot ga pernah bosen sama kita ya?” Tanya  Deni.
“Pas kelas 1 juga kita juga yang kena ya? Jadinya libur kenaikan kelas kita cuma dapet main ke PKB sekali aja”
 klik disini
PKB adalah Pesta Kesenian Bali yang diadakan di Art Center, Denpasar Bali. Acara ini berlangsung bersamaan dengan libur kenaikan kelas, di acara ini diadakan berbagai pentas kesenian bukan hanya dari daerah Bali namun seluruh nusantara. Dan terdapat berbagai macam kiosjajan dan oleh-oleh. Jadi kalau dating ke Bali ingat kunjungi PKB di Art Center pada bulan Juni sampai Agustus dan yang lebih kerennya tidak ada biaya masuk, hanya ada biaya parkir. (Maaf saya tidak bermaksud ber iklan, saya Cuma ingin orang-orang luas tau event di Bali)
Yah… tahun lalu kami pergi kesana, namun dari puluhan hari PKB dibuka kami hanya dapat pergi kesana sekali saja. Semuanya adalah salah Pak Ironman, masa akhir tahun ajaran masih saja memberi tugas pada siswa? Coba pikirkan baik-baik, apakah masuk akal seorang guru memberi tugas saat akhir tahun ajaran? Iya kan? Tapi kenyataannya begitu, kami diberi tugas meringkas 1 buku paket dan menjawab semua soal yang ada di buku itu, jahat kan? Yang lebih jahat lagi alasan kami dihukum saat itu adalah karena kami memecahkan beberapa gelas kimia di Lab saat kami bermain perang tutup botol. Lagian gelas seperti itu kenapa dibuat dari kaca? Coba dibuat dari plastik, pasti akan tahan lama kan? Karena uang jajan kami tidak cukup untuk mengganti gelas-gelas yang kami hancurkan makanya Pak Ironman menghukum kami dengan tugas kejamnya ini.
Hari itu hampir sama dengan hari ini sehari sebelum PKB berakhir kami mengerjakn tugas di rumah Fahizal seperti hari ini juga.
“Yeah!!! KELAR!!” Teriak Rifaldi dengan bangga.
“Eh Fal nyontek dong soal yang di bab terakhir”
“Noh, salin sendiri. Kalo gak bisa baca jangan Tanya aku”
Beberapa menit kemudian  kami semua telah menyelesaikan tugas kenaikan kelas ini. Aku yakin kalian pasti tidak tau bagaimana rasanya menghabiskan satu bulan liburan kalian yang berharga untuk berkumpul dengan cowok-cowok apalagi untuk membuat tugas, perih rasanya saat teman-temanmu yang lainnya pergi jalan-jalan atau gowes naik sepeda pagi hari sedangkan kalian malah menginap di rumah teman sambil mengerjakan tugas, yah meskipun 80% waktu kami membuat tugas kami gunakan untuk main PS, rasanya tetap saja tertekan jika tugas belum selesai kan?.
“Woi entar malam ke PKB yuk?” ajakku.
“boleh tuh,lagian hari ini terakhir PKB kan?”
“iya, event setahun sekali harus ikut kan? Sekalian melestarikan budaya nusantara bro”
“yaudah kalau semua setuju entar jam 6 sore kumpul diwarungku ya?”
“OKEE~”
                Saatku lihat jam tanganku jarumnya sudah menunjukkan jam 6 lebih 45 menit, padahal perjanjiannya adalah jam 6 sore. Biar  ku beritahu kepada kalian kehebatan Boby saat kalian membuat janji dengannya maka buatlah janji 1 jam lebih awal. Maksudnya begini, jika kalian ingin berangkat ke suatu tempat jam 7 maka kalian harus membuat janji dengannya jam 6, karena dia pasti akan terlambat 1 jam dari waktu yang dijanjikan, ketika dia datang dia akan memasang muka tidak bersalah dan berkata.
“Sorry bro, tadi aku lama di kamar mandi” Kata Boby dengan wajah tidak berdosa. Entah apa yang ia lakukan dikamar mandi sehingga membuatnya terlambat 1 jam, tapi yah, kurasa kalian semua bisa membayangkan apa yang dia lakukan, tapi aku tidak akan katakan itu benar karena aku belum pernah mengetahui jawaban yang sebenarnya. Karna kebiasaannya ini kami jadi sudah terbiasa mengahadapinya dan tidak ada dari kami yang marah padanya karena ia datang tepat di jam yang kami inginkan.
“udah semua datang kan?” Deni bertanya sambil menghitung jumlah kami.
“oh iya Jal, katanya tadi mau ngajak cewek-cewek? Mana mereka kok ga ada yang datang?” Tanya Boby kepada Fahrizal.
“Rijal lu suruh ngundang cewek, mana ada cewek yang mau diajak sama dia kan?” ejekku
“BUACOT KAU KI, kayak lu pernah ngundang cewek ikutan ke acara-acara gini”
“Pernah, pas kemarin kita camping ke gunung batur, aku ngundan Riska sama Emmy mereka mau ikut kan?”
“Mereka ga masuk itungan, yang satu tomboy, yang satunya lagi ga tau malu. Mereka gak masuk itungan cewek”
“Terus apaan?”
“Manusia jadi-jadian?”
“Apaan tuh? Udah ah ayuk cepet berangkat entar keburu penutupan lagi”
Kemudian kami semua berjalan ke Art Centre bersama, jarak dari warungku menuju Art Centre cukup dekat itulah mengapa kami memilih warungku sebagai tempat berkumpul. Beberapa menit kemudian kami sampai di Art Centre, hal pertama yang aku perhatikan adalah wajah-wajah tukang parkir dadakan, aku memiliki dendam pribadi pada tukang parkir disini karena 2 tahun lalu biaya parkir disini hanya Rp.2.000 saja untuk sepeda motor namun sekarang menjadi Rp.5.000 dan tahun lalu aku benar-benar kesal makanya tahun ini aku datang kesini dengan berjalan.
“Hahahahaha!... makan nih tukang parkir, aku gak usah bayar! Huahahahahaha!”
“Kenapa lu ki? Kesurupan?” Tanya Fahrizal.
“Biarin aja si Dwiki kayak lu gak tau dia aja, dia kan emang anak gak bener” tambah Rifaldi.
“Haah??... bukannya kau lebih parah dari aku Fal?, kau juga Jal… dasar korban NTR” balasku.
Jika kalian bersama dengan orang-orang ini maka dihina, dicaci maki dan dan direndahkan itu menjadi hal biasa, mereka menghina karena mereka tidak jauh lebih buruk dari orang yang mereka hina. Saling menghina adalah tanda persahabatan, jangan pernah mengaku sahabat kalau belum pernah saling menghina. Bagiku sahabat adalah seseorang yang menghinamu di depan dan membicarakan kebaikanmu di  belakangmu. Ambilah contoh aku sebagai contoh, aku menghina teman-temanku di depan umum dan aku tulis sebagai novel, bagaimana? Aku adalah sahabat yang baik bukan? Asal tidak berlebihan maka itu bukan masalah.
                Setelah kami melewati gapura kami berjalan dengan lambat, jumlah orang disini sangat banyak, Kios-kios berjajaran dengan rapi beberapa pedagang kaki lima juga banyak ditemukan disini.
“ahh, rame cuy..” keluh Rifaldi
“kalau gak rame tahun depan PKB gak bakal ada lagi” balas Fahrizal
“Eh, kita mau nonton apa nih?” tanyaku.
“Kalau gitu kita liat jadwal dulu yuk?” saran Boby
Dengan begitu kami berjalan menuju papan pengumuman untuk melihat jadwal acara hari ini. Tapi sebelum kami ke papan pengumuman kami berhenti di beberapa kios makanan, karena Deni bilang dia belum makan sebelum berangkat kesini. Sesampai kami di depan papan pengumuman yang menanti kami adalah lautan manusia.
“APA-APAAN INI??!!!” Teriak Rifaldi.
“apaan? Jahat lu Fal… mereka manusia lah…” balas Deni
“lu ngomong apa Den?”
“yah lu sih nyanya mereka apaan, yah mereka manusia lah…”
“ahh ini dah kenapa nilai bahasa Indonesiamu hancur Den…”
“emang kenapa?”
“udah ah… ngomong ama lu gak bakal ada ujungnya”.
“terus gimana nih?” tanyaku
“mau gimana lagi…” jawab Boby
“Nyerah?”
“GUOBLOK! Kita TROBOS!!!”
“hooo!!!”
Dengan semangatnya kami menerobos lautan manusia yang memenuhi papan pengumuman, sedikit demi sedikit kami berjalan mendekati papan pengumuman, semuanya berjalan dengan mulus. Tiba-tiba kami mendengar suara teriakan yang tidak asing.
“HUaaaaaahhhh!!!!”
Saat aku menoleh kebelakang, pemandangan yang tidak menyenangkan masuk ke dalam mataku. Rifaldi telah gugur, dia terbawa oleh arus dan hanyut ke lautan manusia yang tiada batasnya. Melihat keadaan Rifaldi membuat hatiku merasa sedih, setelah dia hanyut dalam lautan manusia kemudian ia terjatuh dan menjadi keset. Belum sempat kami mengucapkan kata-kata terakhir untuk Rifaldi, suara teriakan Boby pun terdengar.
“Oh My GOOOODD!!!!”
“Rifaldi, Boby!!” aku dan Fahrizal berteriak.
“jangan pedulikan kami, lanjutkan perjalanan kalian menuju jadwal PKB hari ini! Dapatkan jadwalnya demi kami!” teriak Boby
“Tapi, aku tidak mau meninggalkan kalian dalam keadaan terinjak” kata Fahrizal
“Sudah kubilang, PERGI!, jangan pedulikan kami!”
“Tapi..”
“ayo jal, jangan buat pengorbanan Fal dan Boby jadi sia-sia, kita harus mendapatkan jadwal hari ini demi mereka” kataku sambil meneteskan air mata.
 Ah, jangan salah sangka padaku, aku meneteskan air mata bukan karena sedih temanku terinjak-injak, tapi karena aku menahan tertawaku melihat dua orang bodoh yang merupakan temanku itu menjadi keset untuk ratusan orang ini.
Beberapa menit telah berlalu sejak kami meninggalkan Rifaldi dan Boby menjadi keset, akhirnya kami sampai di depan papan pengumuman. Dengan cepat aku dan Fahrizal mengeluarkan HP kami dan memfoto jadwal hari ini untuk diperlihatkan kepada teman-teman kami.
“Yes!, dengan ini kita bisa tenang tentang kemana harus pergi hari ini.” Kata Fahrizal
“Ya, ayuk balik.”
Setelah kami berbalik ke belakang kami melupakan sebuah fakta kecil yang sangat penting, jika kami masuk ke dalam lautan manusia ini dengan susah payah maka perjalanan kembali kami pasti juga akan susah.
“Udah, berpikir gak bakal bawa kita kemana-mana, intinya kayak tadi, TROBOS!!” Kataku mencoba untuk menyemangati.
Setelah kira-kira  5 menit berlalu akhirnya kami bisa keluar dari lautan manusia itu dan berkumpul kembali dengan teman-teman kami, meskipun kami dalam keadaan yang cukup buruk. Pertama Rifaldi dan Boby, mereka memiliki beberapa bekas sepatu di wajah, baju dan celana mereka, aku yakin diinjak sekian banyak orang pasti sakit rasanya. Kemudian aku dan Fahrizal, Pakaian kami sangat berantakan, rambut kami acak-acakan alasannya jelas karena bertabrakan dengan orang lain, inilah akibat yang kami dapatkan ketika berjalan melawan arus, ketika ratusan orang. Sedangkan Deni, dia sangat bersih dan rapi, seperti tidak terjadi apa-apa padannya.
“gimana ki, jal? Dapat jadwalnya?” Tanya Rifaldi
Dengan bangganya kami menunjukkan foto yang berhasil kami ambil di depan papan pengumuman tadi. Tapi entah mengapa wajah teman-temanku semua menjadi pucat.
“kenapa? Emang ada yang salah?, jangan-jangan yang aku foto jadwal kemarin ya?” tanyaku
“enggak sih, jadwalnya jadwal sekarang sih, Cuma…. Fotonya burem oi yang kebaca Cuma tanggal nya doang cok!” ujar Boby.
“ehhhh… masa??!! “
Aku lihat foto yang berhasil aku ambil tadi, dan kemudian wajahku menjadi pucat, ternyata fotoku benar-benar tidak dapat dibaca dengan jelas.
“Terus lu gimana jal? Kelihatan?” tanyaku
Saat aku melihat layar HP Fahrizal aku sangat ingin memukul wajahnya dengan keras.
“Emang perjuangan kita tadi kesana buat apa?!” tanyaku.
“Mana kutau kalau fotomu bakalan hancur!” jawab Fahrizal.
“oohh… jadi kalau itu alasanmu fotoin cewek bukan jadwalnya?”
“Masalah?!”
“MASALAH LAH!”
Entah kenapa aku diberkahi teman yang bodoh seperti ini? Disuruh untuk mengambil foto jadwal PKB hari ini, kok malah fotoin cewek-cewek terdekat?. Kurasa tingkat jomblo nya Fahrizal sudah terlalu tinggi, jadi dia bisa menerima dirinya bahwa dia itu jomblo dan mulai berpindah ke dunia hayalan. Aku menaruh telapak tanganku di wajahku untuk menunjukkan kekecewaanku. Entah apa hasil dari kerja kerasku untuk sampai ke papan pengumuman tadi.
“nih…”  Deni berbicara sambil menunjukkan HP nya kepada kami
“ohhh… ini kan jadwal PKB hari ini!” ujar Boby.
“Den… lu ternyata sahabat yang berguna”  kataku memuji.
“emang lu ikut nerobos tadi ya?, kayaknya enggak deh.” Tanya Fahrizal.
“aku dapat dari internet.” Jawab Deni
“eh…” kami semua kebingungan.
Aku lupa kalau sekarang zaman sudah canggih, tidak seperti beberapa tahun lalu dimana internet masih merupakan barang mewah, sekarang informasi bisa didapatkan dengan mudah. Aku sempat berpikir, kenapa aku tidak mencoba mencari jadwal PKB di internet saja tadi. Aku mulai mengutuk diriku ini yang pelupa, untuk apa perjuanganku menembus lautan manusia yang kejam itu? Apakah hanya untuk lawakan yang tidak jelas saja?. Yah apapun yang terjadi, sekarang kami sudah memiliki jadwal PKB saatnya untuk menentukan apa yang harus kita tonton di hari terakhir PKB ini.
“sekarang jam berapa?” Tanya Rifaldi
“Jam 10” jawabku.
“Jam 10 ada apa aja den?” Tanya Rifaldi sekali lagi.
“ehhmmm… OH!” teriak Deni.
Kami semua bingung kenapa tiba-tiba wajah Deni menjadi pucat. Kemudian Rifaldi melihat ke layar HP Deni untuk memastikan apa yang membuat Deni terkejut. Bukannya alasan Deni terkejut yang aku dapatkan, malah kebingunganku yang bertambah, Rifaldi juga ikut membatu dengan wajahnya yang pucat. Selanjutnya Boby dan Fahrizal melihat ke layar HP Deni, hasilnya, sama seperti Rifaldi mereka membatu dengan wajah pucatnya. Memangnya ada apa sih di layar HP Deni? Sampai-sampai mereka semua terdiam membatu, aku punya perasaan yang buruk tentang ini. Aku memberanikan diri dan melangkah mendekati Deni, kemudian dalam hitungan ke tiga aku melihat layar HP Deni. Aku pun juga ikut terdiam membatu seperti kawan-kawanku. Bagaimana aku tidak terkejut, yang aku lihat di HP Deni adalah jadwal hari ini, dan saat aku lihat ke blok terakhir di ujung bawah halaman tertulis Jam 21.00WITA-22.30WITA = Penutupan PKB. Kemudian kami terdiam tanpa bergerak dan tidak mengatakan sepatah katapun.
“Ki, oiii KI!!!” Teriak Fahrizal
“eh… ahh… a-apaan?” jawabku
“Ngapain kau bengong? , kerjain bagian mu cok!”
“eh?”
“TUGASNYA COK! TU-GAS! , kalau kau gak mau kerja nanti gak bakal aku kasi nyontek!”

Karena saking asiknya aku mengingat liburan tahun lalu, aku lupa bahwa aku sedang membuat tugas yang diberikan kepadaku. Sialnya diriku, tahun lalu dan juga tahun ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

NOTE

Saya hanyalah penulis amatir, jika ada masukan silahkan tulis di komentar. Kritik dan saran kalian sangat aku terima dan jika suatu saat nanti aku menjadi penulis terkenal maka tidak salah lagi itu adalah berkat kalian semua.